Minggu, 07 Juni 2009

JEJAK TERAKHIR DI PENGHUJUNG SENJA

OLEH : Ardi Tahu

Petang
beranjak malam. Ditingkah mentari senja yang kian tenggelam,

kumelangkah menelusuri lorong waktu. Lembut tatapan temaram senja terasa

bagai sembilu menancap raga. Kini usai sudah pergulatan panjang yang

melelahkan. Membentur dimensi waktu dan ruang, antara aku, kau, dan dia. Aku

merasa kalah sekaligus menang. Kalah lantaran gagal berdiri tegar mengukir

impian menyatu dengan dewi pujaan hingga ajal menjemput. Menang karena di

sisa waktu yang hampir habis kekonyolan itu memberikan tempat pemenuhan

sebuah keputusan. Mesti meninggalkan dia menuju panggilannya sendiri. Tak perlu

disesalkan, sebab ketulusannya bakal terluka bila dipaksakan menyata.


Mimpi kita, awalnya dijejali bayang-bayang indah merengkuh ujung langit tak

terbatas. Hingga terlupa sejenak bila mimpi tinggal mimpi. Hasrat selalu kandas

pada tepian-tepian, yang tak lain adalah tumpukan kesalahan-kesalahan

sederhana. Yang paling bertanggungjawab atas meluapnya tumpukan itu adalah

aku sendiri. Melupakan satu hati nun jauh di sana yang tulus menunggu. Rela

terseok di atas tajamnya karang lorong dia melangkah. Kata maaf akan terasa

menjijikkan saat semua ini telah terjadi. Toh tetap akan terucap karena tak ada lagi

bahasa luar biasa yang paling istimewah untuk menarasikan perasaan jiwa. Aku

mencintaimu karena cinta. Kali ini, pada senja aku mengakui dengan jujur, saat

aku rontok cinta tetap berdiri kokoh.


Ijinkan kisah berpisah di simpang jalan. Sendiri kita merenda jalinan cerita yang

lebih indah. Tak ada kata putus asah untuk kesempatan kedua. Lakon duka tak

akan pernah hilang dari indah niannya mimpi. Energi mungkin telah begitu terkuras

di rimba petualangan mencari sosok yang sempurna. Tapi kita tetaplah pecinta,

yang punya sisa tenaga menentukan pilihan, mungkin bukan terbaik, namun bijak.

Aroma wangi tubuhmu tak akan pernah hilang dari kisaran waktuku. Karena cinta

tak pernah memilih. Yang berpihak hanyalah realita. Realita memang kejam, tapi

mesti dijalani,karena kita senantiasa berlari liar di atasnya.Tak perlu terlarut dalam

nelangsa berkepanjangan. Masih ada syair rindu walau pada bait terakhir, yang

patut dinyanyikan dengan senyum sumringah.


Tetap berkelana dari senja ke senja. Mengisi ruang kosong yang masih suci tak

terjamah. Selalu ada hati yang bakal terketuk untukmu. Hati putih yang juga suci

merengkuhmu. Jauh dari hitamnya taburan janji kosong. Tak lekang cintanya

dilindas perpendaran roda waktu. Aku sebilah pisau yang telah melukai dalam

jiwamu tak berujung. Datang bersungkur di hadapanmu, memohon cinta tak

mengikat. Cabut pisau itu, yang telah merah oleh darahmu. Terima ungkapan

maafku, dan biarkan senja kembali indah. Serasa mentari tak akan pernah

terbenam.


Cinta tak pernah memilih. Cinta hanyalah konsep kosong yang akan selalu netral.

Yang bersalah adalah pecinta. Selalu liar terperangkap permainan suasana.

Bersahabatlah dengan cinta. Tuntunannya membawamu pada idealisme hati yang

hakiki. Seerat cinta direngkuh, hingga diri berubah sosok menjadi cinta itu sendiri,

tangisan duka tak akan hadir. Aku mencintaimu karena aku mencintaimu, bukan

karenamu. Biarkan aku mengatakan hal yang sama setelah berpisah di

persimpangan ini. Hanya karena tabrakan realita, dan kau terlalu suci untukku.

Biarkan aku menapakkan jejak terakhir pada senja kini dengan sebaris kata,

engkau terlalu indah untuk kusentuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar