Minggu, 07 Juni 2009

RUANG TUNGGU

Oleh : Ardi Tahu

" Didedikasikan kepada Para Kekasih yang tak jenuh Menunggu "


Jubelan
manusia tumpah ruah di ruangan itu. Tampak berdiri enggan, duduk pun tak mau. Selalu
melonggokkan
mata pada penanda waktu yang nangkring di dinding. Ada yang tersenyum cerah, mungkin
sebentar lagi orang
yang ditunggu tiba. Lainnya kelihatan murung , sepertinya bakal berpisah.
Di pojok sana berdiri sepasang anak
muda. Sepasang kekasih tepatnya. Mereka termasuk barisan murung yang
enggan jarum jam berputar cepat saat itu. Yang cewek menatap sayu wajah pria di depannya. Segurat senyum jingga menghiasi bibir tipisnya. Sementara si cowok tampak menggumamkan sesuatu. Pasti sederet kata penguat. Dawai perpisahan sedang dimainkan oleh sang musisi bernama waktu. Pada jedah ini alur rasa menggapai klimaks. Pola verbal serasa kehilangan sentuhan ajaib. Tinggal bahasa raga yang mampu mengeja setiap tumpukan rasa tak tertampung kata terucap. “ Enu, andai kau yang kutuju, aku tak perlu berlari, karena tanpa kukejar pun, kuyakin kau tetap di sini menungguku ”, bisik Erang dengan bibir bergetar. “ Iyah, saya akan bertahan sampai kau pulang”, balas Wella !!! Dialog cinta tengah bergulir. Entah sebentuk permohonan untuk tegar menjalani kisah yang terpisah ruang dan waktu, atau metamorfosis dari pertanyaan atas serpihan keraguan hati tak bertepi.

Temu dan pisah
adalah dua
titik kecil yang darinya bisa ditarik garis-garis mini membingkai sebuah kisah. Demikian halnya kisah cinta Erang dan Wella, yang bermula pada tiga tahun silam. Erang, mahasiswa Ilmu Politik UGM Jogjakarta, sementara Wella, mahasiswi keperawatan UNDANA Kupang. Berawal ketika Erang diperkenalkan oleh teman Wella, yang juga temannya lewat telepon. Lembut tutur Wella yang mempesona, ibarat panggilan pulang bagi Erang untuk kembali menapaki sebuah masa yang pernah membuat dia retak dan enggan berhubungan dengan semua sosok yang namanya cewek. “ Aku jatuh cinta lagi. Kali ini pada suaramu ” !!! Serangkai kata, awal kebekuan mencair terucap dari mulut Erang. “Iyah, aku juga “ !!!Wella terkontaminasi sindrom perasaan mutual yang sama. Hanya kodrat memaksa
dia terbenam dalam diam, tidak menjadi orang pertama yang ungkapkan rasa. Keduanya sepakat menamakan ini sebuah kebetulan yang indah. Kebetulan, karena terjadi begitu saja, tanpa prediksi matematis jauh sebelumnya. Indah sebab bermataairkan ledakan-ledakan rasa yang tak tertahan dan bermuara pada kesepakatan tak terucap untuk menjaganya hingga rasa itu pergi. Dan semua pun mengalir begitu saja, sejalan ritme yang tak sengaja dikonsep, larut dalam kompleksitas manis dan getir bertahan. Hingga sekarang mereka masih bertahan, tenggelam dalam mekanisme cinta yang tak butuh tali. Ini menjadi perpisahan kedua, sekaligus menandai saat pertama Wella mengakhiri status sebagai mahasiswi, karena telah diwisuda sebulan kemarin. Long distance tetap berlanjut, cuma dengan setingan tempat yang berbeda, Wella di Labuan Bajo, Erang di Jogja.

Lonceng perpisahan
pun bertalu. Kapal Tilong Kabila yang akan membawa Erang dari Labuan Bajo menuju
Jogjakarta merapat di dermaga. ” Enu, jaga hati e !!! Jaga diri juga. Jangan lelah menunggu. Jika kau rindu, datanglah ke sini di saban kapal merapat. Daraskan kembali kata-katamu tadi, bahwa kau akan bertahan sampai aku benar-benar pulang. Percayalah, aku mengunjungi hati mu saat itu ”. Wella hanya bisa mengangguk kecil, tak kuasa menjawab. Erang mendaratkan kecupan hangat di kening kekasihnya, kemudian beranjak menaiki tangga kapal, diiringi lambaian tangan sang kekasih. Hingga kapal perlahan beringsut menjauh dan tak kelihatan lagi ujungnya, barulah Wella menurunkan tangan, dan beranjak dari ruangan itu. Sebelum pergi, dia sempat berbisik lirih dalam hati, “ Nana, saya sudah terbiasa dengan ini, dan kau harus tahu, sedetik pun di catatan waktuku, tak pernah berpikir tuk melepasmu dari kisah kita. Cuma nana yang saya cemaskan. Hanya bisa bilang satu hal, rapatkan mantel dan kencangkan sepatu boat biar tidak ada cahaya lain yang masuk ” !!!

Waktu
terus bergulir menguji konsistensi para pelakon kisah menggenggam janji , di batas fajar, di
ambang senja. Kini Wella tenggelam dalam rutinitas baru sebagai tenaga honorer di sebuah klinik kesehatan Labuan Bajo. Pun amanat perpisahan yang dipesankan sang kekasih tetap setia dijalani. Wella masih mendatangi ruang itu di saban kapal merapat. Memang menjalani sesuatu yang tak biasa, dengan penuh keyakinan sekali pun tetap akan konyol. Tapi Wella tak pernah memilih untuk yakin atau tidak. Wella hanya menuruti panggilan rasa. Dan cinta butuh kerangka biar tidak berlari liar tanpa batas, tanpa tujuan. Wella telah menjadikan Erang sebagai satu-satunya tujuan hidup dalam bingkai cinta. Lakon yang kemarin pun terulang, lalu terulang lagi, meski konyol dan bodoh. Sampai pada suatu hari, muncul sepenggal pesan singkat dari sang kekasih di Jogja. ” Enu, maafkan saya. Saya sudah salah jalan. Telah mengingkari kisah kita. Saat ini, saya tengah menjalani dua dunia. Jika bertanya pada rasa, di mana sebenarnya pelabuhan yang kutuju, rasa akan enggan menjawab. Sebab sebelum melakoni dua dunia ini, saya tak pernah berdiskusi dengannya, atau sekedar mohon diri. Sengaja kukirim sms saat ini, karena aku tahu sebentar lagi kapal akan merapat. Katakan pada sosok asing yang akan kau jumpai dalam monologmu nanti, ini kali terakhir kau menunggunya ” !!! Ibarat petir di siang bolong, itu menjadi tamparan paling keras dalam hidup Wella. Lelaki yang dipercaya menjadi penjaga hati datang dengan kejujuran yang menjijikkan melebihi sebuah kebohongan paling busuk. Pria terindah sampai dia merelakan dirinya mengenal banyak hal terkonyol, kini bermutasi menjadi monster menjijikan. “ Tapi bukankah cinta tak butuh tali ? Dan kisah tak akan pernah berakhir, sebelum rasa itu sendiri datang mencabutnya. Lalu di mana rasa saat Erang….berkhianat ??? Dan, ruang tunggu itu”??? Ruang tunggu adalah tempat persinggahan jejak yang pergi dan datang. Mampir sejenak di sana berarti siap berfluktuasi dengan dengan imajinasi menjadi orang lain. Yang siap berangkat pasti ingin bertukar sosok dengan yang baru turun dari kapal. Tapi akankah yang datang, juga menginginkan itu ??? Yang tersisa hanyalah kumpulan penjemput dan pengantar dengan imajinasi liar berpendar dari satu titik ke titik lain.

Ruang tunggu
dengan pembatas berupa pajangan kaca tembus pandang adalah penjara nyata untuk setiap
keinginan berontak. Sebuah titik jungkir untuk berlayar dan terus berlayar, hingga tak pernah kembali. Atau titik
labuh setiap keinginan untuk tak lagi pergi. Bisunya tiang penyangga, dan beningnya kaca pembatas tak pernah mengajak para pesinggah untuk berdiskusi tentang arti datang dan pergi. Atau sekedar bernegosiasi betapa retaknya sebuah hati yang ditinggal. Tut…….tut………tut…..tut….tut……, sayup-sayup dari kejauhan terdengar bel kapal berbunyi. Wella sadar dari keterpekurannya. Pedih yang melukai hati serasa pulih seketika. Dia bangkit, dan berangkat ke pelabuhan. Masuk ke ruang itu, dan berdiri di tempat kemarin dia berdiri. Dia diam sejenak, lalu ; “ Nana, ini kali terakhir aku tak perlu menunggumu lagi di ruang ini. Dan kau tak harus pulang sebelum bertemu dengan rasamu itu. Kutunggu kau dan rasamu kembali di ruang hatiku. Di sana kupastikan kalian masih sempat berdebat sebelum kau akhirnya pergi lagi. Ketahuilah aku tak cukup punya kekuatan tuk menahanmu. Cinta kita tidak butuh tali ” !!! Tit…tit….tit…, sms terkirim.

Catatan :

Enu : panggilan buat cewek dalam kosa kata bahasa Manggarai

Nana : panggilan untuk cowok .

Erang : diadopsi dari kosa kata bahasa Manggarai yang berarti
hebat, jago, luar biasa, Istimewah / Wella : diadopsi dari
kata wela yang berarti bunga.

Labuan Bajo ; nama kota di ujung barat Pulau Flores, NTT.
Kota yang termasuk salah satu ikon pariwisata lokal dan
nasional. Kota tempat transitnya para wisatawan yang hendak
berkunjung ke Pulau Komodo.

Tilong Kabila : Satu-satunya kapal penumpang milik PELNI yang
bersandar di pelabuhan Labuan Bajo dengan rute pelayaran di
jalur Makassar-Labuan Bajo-Bima-Lombok-Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar